120X600_WebAdsBanner_H8_IDR.gif

High Five Rafi Murdianto !

By Raynald Andreas, Rabu, 25/09/2013 11:20
78hfrm.jpg

Salam Jebret !

Minggu kemarin adalah hari dimana saya menjadi salah satu manusia tersibuk dalam hal mengganti channel televisi. Siaran langsung yang bersamaan antara Indonesia melawan Vietnam dengan Arsenal melawan Stoke City membagi perhatian saya setiap 5 menit. Belum lagi Indosiar yang membangkitkan kenangan manis saya pada tanggal 14 September lalu karena menayangkan siaran ulang konser Girl’s Generation di MEIS Ancol. Luar biasa bagaimana saya dimanjakan oleh siaran televisi di Minggu malam itu.

Ok, kita masuk ke topik yang sebenarnya.

Pada akhirnya, saya memang kembali ke rencana awal untuk fokus pada pertandingan Indonesia vs Vietnam meski terkadang beberapa kali saya tetap mengganti channel televisi saya demi mengurangi ketegangan menyaksikan para pemain Vietnam yang cukup gila dalam hal menekan para pemain Indonesia di babak pertama. Puji Tuhan, hasil akhir pertandingan membuat saya meneteskan air mata bahagia. Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur adalah kalimat yang patut kita ucapkan sesaat setelah Ilham Udin Armaiyn berhasil menceploskan bola dalam adu tos-tosan ke gawang Vietnam Minggu kemarin. Puasa gelar selama 22 tahun akhirnya terhapuskan sudah berkat aksi gemilang seluruh bagian dari timnas U-19 Indonesia selama piala AFF U-19 berlangsung.

Sepanjang turnamen berlangsung mungkin nama sang kapten fantastis (begitu kata bung Valentino Simanjuntak memanggilnya) Evan Dimas adalah yang paling banyak dibicarakan dan menjadi idola baru seantero nusantara. Memang harus kita akui bahwa Evan Dimas bermain begitu luar biasa dan penampilannya seolah  ia berhasil mengambil sedikit ilmu dari Andres Iniesta saat ia sempat dilatih oleh mantan pelatih Iniesta, Pep Guardiola melalui program yang diadakan oleh Nike beberapa waktu lalu (maaf, bukannya lebay, tapi memang menurut saya dan beberapa pihak ada kemiripan dari cara bermain Evan dengan Iniesta. Mungkin faktor idola).

Tetapi jelas bukan berkat seorang Evan Dimas saja Indonesia mampu menorehkan tinta emas ini.  Bukan juga karena supersub Maldina Pali ataupun gol – gol dari Ilham Udin. Juga bukan hanya karena solidnya wingback kita Fachtu Roman dan Putu Gede. Tetapi juga berkat penampilan heroik seorang pemain ini. Ada satu nama yang ingin saya apresiasi semenjak pertandingan melawan Thailand di fase grup. Bukan lain dan tidak salah lagi, sang penjaga gawang utama timnas U-19, Ravi Murdiato.

Penampilannya yang cukup tenang, mahir menghalau bola-bola crossing, dan mampu mengkoordinasi lini belakang Indonesia semakin menunjukkan kedewasaannya dalam memimpin lini pertahanan Indonesia. Berpostur cukup besar untuk anak berusia 18 tahun (181 cm) tidak membuatnya lamban dalam mengantisipasi tendangan lawan. Bukti sahih ia tunjukkan kala berhasil menjaga gawang Indonesia tetap perawan pada laga final melawan Vietnam. Berbagai penyelamatan gemilangnya bahkan membuat admin twitter kami @Bolatotal menggagaskan #harimemelukravi. Luar biasa memang penampilan Ravi pada laga final kemarin.

Untuk urusan teknik, pengalaman, atau apapun itu jelas tidak perlu kita perdebatkan. Medali emas berhasil Ravi persembahkan untuk kedua orang tuanya dan seluruh bangsa Indonesia. Itu saja yang perlu kita ingat. Hasil akhir tidak pernah berbohong. Pasti.

Melihat posisi Ravi sebagai penjaga gawang, membuat saya semakin senang bukan kepalang. Pemain ini dipuja di berbagai media dan ia bukanlah seorang striker, pemain tengah, ataupun seorang pemain bertahan, tetapi seorang penjaga gawang! Posisi inilah yang banyak dianggap remeh oleh sebagian kalangan. Bukan rahasia kalau posisi penjaga gawang bukanlah posisi favorit dalam sepakbola terutama bagi mereka yang sedikit awam akan sepakbola. Melihat bagaimana hanya ada satu penjaga gawang di setiap starting eleven sebuah kesebelasan harusnya cukup menjelaskan betapa pentingnya seorang penjaga gawang. Ini adalah jenis pemain yang tidak akan digantikan oleh pelatih kecuali sang penjaga gawang mengalami cedera parah ataupun terkena kartu merah. Pemain ini adalah palang pintu terakhir dari garis pertahanan sebuah tim. Seorang pemain yang wajib memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan mampu menaikkan moral timnya untuk meraih kemenangan.

Bukan sebuah rahasia lagi kalau posisi ini sangatlah rawan akan caci maki dari para pakar ataupun fans – fans sepakbola dimanapun mereka berada. Sepuluh penyelamatan spektakuker akan langsung terhapuskan oleh dosa melakukan satu blunder di akhir pertandingan. Kekalahan tim akan ditimpakan kepada sang penjaga gawang andai hal tersebut terjadi. Berbanding terbalik dengan seorang striker atau pemain lain yang dosanya terhapuskan saat berhasil menjebol gawang lawan satu kali setelah puluhan percobaan yang gagal. Ini fakta yang memang terjadi pada sepakbola.

Bahkan saya yang juga bermain sebagai penjaga gawang selama ini pernah mendapatkan sebuah cibiran dari seorang teman yang selama ini beranggapan bahwa penjaga gawang adalah satu dari sekian pemain yang merupakan pemain buangan karena sesungguhnya tidak bisa bermain bola. Sebuah ucapan yang hanya saya balas dengan sebuah senyuman yang dilakukan secara terpaksa. Memang seorang penjaga gawang tidak dituntuk memiliki stamina sekuat pemain lain ataupun skill bermain bola yang di atas rata – rata. Tetapi tidak ada yang bilang kalau menjadi penjaga gawang adalah hal yang mudah. Coba saja sendiri kalau tidak percaya. Atau jika perlu coba saja tukar posisi penjaga gawang timnas kemarin dengan seorang Evan Dimas. Mungkin kita akan dibantai habis oleh seluruh lawan di piala AFF.

Pepatah mengatakan bahwa sebuah tim akan mampu menjadi juara andai mereka memiliki seorang penjaga gawang yang hebat dan mampu diandalkan. Sebuah pepatah yang sangat saya setujui dan saya amini sampai saat ini.

Pepatah ini mungkin hanya tak berlaku bagi Victor Valdes dan Yuzo Morisaki. Bukan mereka tidak jago, hanya saja mereka gak perlu susah susah amat untuk juara. Mereka beruntung memiliki bocah ajaib bernama Lionel Messi dan Ozora Tsubasa dalam tim mereka. Itu pengecualian.

Akhir kata, saya ucapkan selamat atas prestasi membanggakan ini kepada seluruh punggawa timnas Indonesia U-19. Tetaplah rendah hati dan terus kepakkan sayap kalian hingga mampu mencapai dunia. Tidak ada salahnya terus bermimpi dan meraih angan setinggi langit. Berjuang dan terus berjuang.

Lalu spesial untuk Ravi Murdianto, saya hanya ingin bilang terima kasih banyak.

High Five Ravi !! Tossss !!!

 

Ditulis oleh: Raynald Andreas

Komentar (0 Komentar)
Belum Ada Komentar.

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Archive Berita Botoligans