120X600_WebAdsBanner_H8_IDR.gif

Pirlo, Si Gypsy Penanam Anggur

By Bolatotal, Jumat, 08/03/2013 14:21
64pirlo.jpeg
 
 
 


Andrea Pirlo

Kecuali impresifnya penampilan Ryan Giggs di laga ke-1000 nya, ada yang lebih menarik perhatian saya ketimbang laga antara Manchester United versus Real Madrid yang gegap gempitanya seperti launching film Raam Punjabi itu. Dia adalah Andrea Pirlo. Menyaksikan Pirlo masih bermain hingga sekarang—kendatipun hanya di layar 20 inch dan bermain untuk Juventus—adalah sebuah orgasme tersendiri, sebuah kehormatan unik yang mungkin tak semua orang ikut merasakannya.

Segala sesuatu di dunia ini, sebagaimana kita tahu, selalu ada yang memulai. Gil Scott Heron menjadi manusia pertama yang memulai musik rap. Ulasan taktik yang dicatat Jack Reynold di selembar kertas berhasil menelurkan embrio Total Football. Zhuang Zhou menjadi inspirator awal kelahiran ide-ide anarkisme. Pasteur menemukan vaksin pertama untuk rabies dan anthrax. Dan Pirlo, ya, Pirlo, adalah pesepakbola pertama yang dengan sempurna memerankan deep-lying playmaker.

Tapi mari bayangkan andaikata Pirlo terlahir tidak dengan bakat sepakbola yang mumpuni. Mari bayangkan andaikata Pirlo lahir di Jerman ketika Adolf Hitler masih menjalankan Nazi sebagai mesin pembunuh. Sebagai orang yang disebut-sebut terlahir dari keluarga gypsy, Pirlo dan keluarganya tentu sudah tewas diganyang partai swastika kala itu.

Sejatinya, Pirlo sendiri sempat mendapatkan momen-momen tak menyenangkan terkait darah Sinti-nya itu. Semua bermula di masa lampau. Syahdan, sebuah cerita mengatakan, ketika kakek Pirlo datang ke Italia dari jazirah Romania dan hendak mendaftarkan diri sebagai warga negara, seorang pejabat yang menemuinya justru mengolok-oloknya dan memberinya nama ‘Pirla’, yang berarti ‘jackass’, atau ‘brengsek’.  Dari sinilah konon nama Pirlo berasal.

Terkait momen tersebut, Pirlo tak jarang mendapat olok-olok. Tatkala memulai debutnya di Brescia ketika usianya baru 16 tahun, beberapa wartawan yang meliputnya justru tertawa geli. Bagaimana mungkin ada orang Italia bernama Pirlo, pikir mereka kala itu. Menjadi atau memiliki keturunan gypsy di negeri yang menyejarah dengan fasisme seperti Italia memang sebuah hinaan. Tapi Pirlo, sebagaimana kisah superhero kebanyakan, melewati momen-momen getir itu dengan laku yang cemerlang.

Pirlo kecil biasa bermain bola di belakang rumah neneknya yang berlatar pedesaan di Flero, Lombardy. Tapi Pirlo kecil bukanlah anak yang memiliki banyak kawan. Sesekali ia memang bermain bersama anak-anak lain, tapi waktunya lebih sering dihabiskan sendirian. Karena hal ini, Pirlo akhirnya memutuskan untuk melakukan latihan shoot. Ia memulainya pertama kali dengan menendang-nendang bola ke dinding, berulang kali, setiap hari.

Apa yang dilakukan Pirlo tak terlepas pula dari kegemarannya menonton video tendangan bebas pemain-pemain legendaris. Ada tiga nama yang biasa ia tonton: Diego Maradona, Zico, dan Roberto Baggio. Nama terakhir bahkan menjadi salah satu idolanya hingga saat ini. Ketika usianya 22 tahun, Pirlo mendapat kesempatan terhormat tak hanya bermain bersama Baggio di Brescia, tapi juga beberapa kali menggantikan perannya sebagai pemain nomor 10.

Tapi Carlo Mazzone, pelatih pertama Pirlo di level senior, melihat ada potensi “ajaib” yang dimiliki Pirlo. Mazzone menilai kualitas Pirlo sebagai mezzapunta memang luar biasa, tapi tidak di belakang striker. Hal ini disebut Mazzone lantaran kebiasaan Pirlo yang lebih senang melakukan umpan parabolik ketimbang umpan telusur. Sebuah asumsi dangkal yang justru mengubah jalan hidup Pirlo nantinya.

Mazzone pun lantas memutar otak, hingga tiba saat itu: Pirlo tetap berperan sebagai playmaker, tapi posisinya tepat di depan para bek. Apa yang dilakukan Mazzone kala itu membuat banyak pundit sepakbola di Italia tertawa sarkastik. Bahkan keseluruhan skuat Brescia saat itu juga banyak yang menganggap opsi yang ditawarkan Mazzone hanyalah lelucon belaka.

Seperti pelatih tua nan puritan kebanyakan, Mazzone tetap bersikukuh mengatakan kepada para pemainnya agar terus memberi bola kepada Pirlo saat di lapangan. Pirlo, yang saat itu masih berusia 22 tahun, lantas menjalani posisi absurd tersebut dengan beban berat di pundak. Pada mulanya, Pirlo memang enggan menuruti apa yang diinginkan Mazzone. Pun demikian, Pirlo akhirnya paham Mazzone memang tak asal bicara.

Dalam sebuah wawancara dengan La Gazzetta Dello Sport, Mazzone menceritakan ikhwal percakapan antara dirinya dengan Pirlo kala itu.

“I was managing Brescia when Pirlo still considered himself a “mezzapunta” (attacking midfielder). I told him to play in front of the defenders, because he had vision. ‘But I like goals,’ he told me, unconvinced. ‘You score four or five a year,’ I replied. ‘Play in this position and you’ll score even more. Let’s try it for two weeks. You’ll be a base playmaker.’”

“I told him to play two games without asking questions. Afterwards he told me: ‘I feel very comfortable here. I get the ball all the time.’ He found out how it worked. If I’d told him I was going to play him as a libero ahead of the defenders, he’d have run away terrified! Calling him a base playmaker convinced him.”

Pirlo pun cukup sukses melakoni peran barunya tersebut. Inter Milan, yang memang latah untuk memborong pemain bintang maupun calon bintang saat itu, lantas menggaetnya. Tapi selama tiga musim di Inter (1998-2001), tak ada satupun pelatih di sana yang paham bagaimana menangani Pirlo, bagaimana memoles bakat Pirlo yang unik itu. Dan untuk kasus menyia-nyiakan bakat pemain (entah berapa kali saya sudah menuliskan kalimat ini), Inter memang juaranya. Pirlo hanyalah nama kesekian.

Padahal, dalam kurun tiga tahun tersebut, Inter sudah berganti pelatih hingga lima kali, pelatih yang tentu saja memiliki kualitet kelas atas. Sebut saja: Mircea Lucesce, Luciano Castellini, Roy Hodgson, Marcelo Lippi, Marco Tardelli. Hingga di 2001, Carlo Ancelotti, pelatih AC Milan saat itu akhirnya melihat Pirlo yang disia-siakan oleh Inter Milan. Pirlo pun akhirnya hijrah ke Milan. Di sinilah era emas Pirlo dimulai.

Ancelotti yang di luar lapangan sering berdiskusi dengan Mazzone sudah paham posisi mana yang tepat untuk Pirlo. Tanpa banyak basa-basi, ia lantas menjadikan Pirlo ke habitat awalnya sebagai deep-lying playmaker. Dengan ditemani Genaro Gattuso di kiri sebagai breaker, Clarence Seedorf sebagai wide-playmaker, lalu Rui Costa atau Kaka sebagai trequartista dalam pola 4-3-1-2 atau 4-3-2-1, Pirlo memulai babak baru dalam karirnya sebagai metronom terbaik di dunia sepanjang sejarah.

Berkali-kali ia mengelabui pertahanan lawan dengan umpan paraboliknya yang nyaris selalu presisi dari jarak 40 hingga 50-an meter. Membelah pertahanan lawan dan tepat mengarah Andriy Shevchenko atau Filippo Inzaghi. Bersama Rossoneri pula meraih seluruh gelar yang kemungkinan dapat diraih seorang pesepakbola, mulai dari Scudetto, Liga Champions (dua kali), hingga Piala Dunia Antar Klub.

Ajaibnya penampilan Pirlo juga berimbas ke tim nasional. Bersama Italia tahun 2006 yang dilatih Lippi, Pirlo sukses meraih gelar monumental Piala Dunia. Lippi, yang telah bertaubat, tak lagi mengulangi kesalahannya kala melatih Inter. Dengan mengadopsi pola Milan—tentu juga dengan beberapa perubahan— berhasil membuat sinar Pirlo kian terang. Seterang dahi Gervinho yang terkena lampu dek kapal pesiar.

Disinyalir akan pensiun bersama Milan, Pirlo yang telah berusia 32 tahun, nyatanya justru dilego ke Juventus pada tahun 2011, berbarengan dengan banyak pemain bintang Milan yang juga dijual klub lain. Banyak yang menyebut bahwa hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan neraca keuangan klub agar kembali stabil. Tapi tak sedikit pual yang mengatakan bahwa hengkangnya Pirlo hanyalah buah dari ego Massimilano Allegri yang ingin terbebas dari trademark Ancelotti yang memang sangat Pirlo-Sentris.

Tapi, di usianya yang ke-33 tahun, Pirlo belum habis. Di Piala Eropa 2012 lalu, Pirlo juga sukses membawa Italia ke final. Di laga itu, ia bersemuka dengan Xavi Hernandez dan Andres Iniesta—ditambah dengan Sergio Busquets, metronom jenis baru bentukan Pep Guardiola. Pirlo pun kalah, Italia menyerah dengan skor telak 0-4. Tapi dunia tak akan lupa bagaimana penalti ala Panenka-nya ke gawang Joe Hart.

Pun demikian, kekalahan di periode akhir karir internasionalnya bersama Italia tak membuat luka di dada Pirlo. Bersama Juventus, ia masih sukses meraih Scudetto di tahun pertama kepindahannya, membawa Juve melaju ke perempat final Liga Champions musim ini. Bianconeri pun masih menjadi kandidat terkuat peraih gelar juara Serie A juga di musim ini.

Cerita Pirlo memang tak ubahnya fairy tale. Mengalami pahitnya disia-siakan, merasakan perihnya ditertawakan, namun pada akhirnya menjadi seorang pemenang yang dengan purna meludahi kejamnya masa lalu. Kendati demikian, Pirlo sepertinya bukanlah tipikal manusia yang seperti itu. Ia seolah lahir tanpa ambisi. Ekspresinya nyaris selalu dingin, garis wajahnya seolah terus kaku, dengan mata yang melulu sayu.

Baginya, bermain sepakbola tak ubahnya seperti berkebun anggur: menunggu dengan sabar sampai buah matang, untuk kemudian dipetik dan dimakan bersama keluarga bersama di halaman belakang rumah.  Pirlo memang menggemari anggur, bahkan rencana pensiunnya kelak adalah melanjutkan bisnis wine keluarganya, Pratum Coller.

'I’ve always drunk wine, ever since I was little and my mother mixed a little of it with water for me. I like to read about wine, to understand it, to try wines from other regions, other labels.'

Kata Pirlo dalam sebuah film dokumenter berjudul Ford’s Fascinating World of Football series. Barangkali, Jose Mourinho bisa memesan anggur kepada Pirlo untuk diserahkan kepada Alex Ferguson yang masih cemberut.

 
Komentar (2 Komentar)
2 tahun yang lalu
Kalo gak salah ketika Pirlo dateng ke Milan pada masa awal, Ancelotti pernah bilang kira-kira, "Jika sepakbola membolehkan bermain dengan dua belas orang, Pirlo akan terus bermain sebagai starter." Merujuk pada penampilan bagusnya lawan Parma kalo gak salah

Gak lama setelah komen itu, walau sepakbola tetep dimainkan dengan 11 orang, Pirlo terus menjadi starter tak berkesudahan.
abebamz
2 tahun yang lalu
seingat saya sewaktu musim pertama di AC Milan, Pirlo lebih sering jd pelapis Rui Costa deh, pernah ingat dulu waktu Rui Costa absen Ancelotti bukannya pasang Pirlo eh malah ganti formasi 4-4-2 tanpa playmaker baru waktu musim kedua Pirlo sering dipasang di posisi deep lying playmaker (waktu itu sampe dibahas transformasi posisi Pirlo di Tabloid Bola n GO) dan sukses!!

salam kenal buat penulis

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Archive Berita Botoligans