Snowden, Whistleblower, dan Sepakbola

By Pangeran Siahaan, Minggu, 07/07/2013 14:17
43Snowden.jpg

Anda pasti sudah pernah mendengar mengenai Edward Snowden. Jika belum, tutup segera tab browser ini, pindah ke Google, cari tahu mengenai siapa itu Edward Snowden dan kembali lagi ke sini jika sudah selesai. Saya serius. Hanya membaca sepakbola tanpa tahu keadaan aktual dunia hanya membuat anda menjadi JongosBola™.

Jika anda mengikuti kisah Edward Snowden, maka anda bisa melihat bagaimana seorang whistleblower kerap disalahmengerti dan diburu seperti seorang pengkhianat.

 Snowden adalah bekas pekerja di salah satu kontraktor swasta yang menjadi mitra NSA (National Security Agency) Amerika Serikat. Ia membocorkan berbagai rahasia NSA termasuk soal program surveillance Prism dan bagaimana situs-situs populer seperti Google dan Facebook disadap demi kepentingan dalam negeri Amerika Serikat. Tidak ada yang baru dari hal ini memang – kita semua selalu hidup dalam paranoia bahwa apa yang kita lakukan selalu diobservasi dengan seksama oleh pemerintah. Bedanya adalah sekarang kita punya bukti bahwa kita tidak hanya paranoid semata berkat pernyataan Snowden.

Snowden membocorkan rahasia NSA tersebut kepada 2 koran, salah satunya adalah The Guardian, yang rubrik olahraganya menjadi panutan bagi para penulis sepakbola high-brow. Snowden menggelar live chat melalui situs The Guardian dan kabur keluar dari Amerika Serikat menuju Hongkong. Dari Hongkong ia bertolak menuju Moskow, Rusia yang menyebabkan krisis diplomatik mendera berbagai negara. Snowden masih mencari tempat untuk meminta suaka politik dan Amerika Selatan nampaknya menjadi pilihan paling logis bagi Snowden, tapi sampai saat ini tidak ada yang tahu keberadaan dirinya. Kemungkinan besar ia masih berada di Moskow, sebuah  kemungkinan yang membangkitkan kembali memori dunia pada periode Perang Dingin.

Snowden adalah seorang whistleblower. Ia meniup peluit tentang adanya sebuah kejadian luar biasa yang menurutnya perlu diketahui orang banyak karena menyangkut kemashalatan masyarakat. Tapi bagi pemerintah Amerika Serikat dan kebanyakan media setempat, Snowden dianggap sebagai seorang pengkhianat yang membahayakan keamanan nasional. Beberapa senator dan anggota parlemen bahkan menganggap Snowden sebagai mata-mata asing yang mencuri rahasia negara dan menjualnya kepada pihak lain – sebuah tuduhan yang tanpa bukti karena pihak pertama yang dihubungi Snowden adalah The Guardian dan Washington Post, media massa bukan pemerintah negara asing.

Apa yang bisa kita cermati dari kisah Snowden adalah whistleblower kerap kali tak disukai dan salah dimengerti. Hal ini bisa terjadi dalam bidang apa saja, karena berteriak mengenai sebuah kenyataan getir akan mengusik banyak orang. Karena ini adalah media sepakbola, saya akan menaruhnya dalam konteks tersebut.

Contoh sederhana seperti berikut ini. Fanatisme kerap menyingkirkan objektivitas. Jika anda mengenakan kacamata kesuporteran dengan lensa yang berwarna sesuai dengan warna klub anda, maka sulit untuk melihat segala sesuatu dengan jernih.

Taruhlah anda menyukai sebuah klub, anggap saja Manchester United sebagai contoh. Anda benar-benar mendukung dengan sepenuh hati dalam keadaan suka dan duka. Lalu anda melihat ada sebuah kekurangan dalam klub tersebut semisal bagaimana lini tengah United tidak bergigi dan bertenaga atau bahkan bagaimana United kerap mendapatkan keuntungan dari keputusan wasit. Lalu anda mengutarakan hal tersebut tanpa maksud lain selain hanya kebenaran. Respon apa yang akan anda terima? Bisa-bisa anda malah dikira sebagai pendukung dari klub rival yang sengaja mencari-cari kesalahan, padahal anda hanya ingin mengatakan sesuatu yang mengganggu pikiran anda sebagai fans.

Itu tadi jika berbicara mengenai kesuporteran klub asing. Bagaimana jika kita berbicara mengenai sesuatu yang lebih besar dalam konteks lokal?

Prahara sepakbola Indonesia telah melahirkan cerita-cerita yang lebih aneh dari sekedar pemain yang gajinya tak dibayar. Kita tahu bagaimana seorang pemain asing meregang nyawa di Indonesia karena hak profesionalnya tidak dipenuhi. Kita tahu bagaimana kekerasan yang berhubungan dengan sepakbola menelan korban jiwa terjadi tanpa adanya penyelesaian yang jelas.

Tapi hal paling aneh yang bisa terjadi adalah bagaimana anda akan dihakimi dari kanan kiri jika berbicara mengenai hal tersebut. Anda akan dicerca jika berbicara mengenai kenapa bisa ada pemain yang meninggal karena gajinya tak dibayar. Anda bisa dipojokkan jika ngotot mempertanyakan mengapa masalah kekerasan sepakbola selalu tak terselesaikan. Anda akan ditekan jika meminta kejelasan soal anggaran keuangan dan transparansi.

Beberapa waktu para pemain PSMS datang ke Jakarta dan berunjukrasa untuk meminta kejelasan nasibnya yang tak digaji berbulan-bulan. Membayangkan pemain sepakbola profesional berdemonstrasi saja sudah merupakan pemandangan yang miris, belum lagi mereka harus tidur menggelandang karena tidak punya uang sama sekali di ibukota.

Tapi apa respons yang mereka terima? Para pengurus PSSI menilai bahwa para pemain tersebut berperilaku buruk dan telah membuat malu sepakbola. Jangan tanya, saya juga tak mengerti logika berpikirnya.

Apa boleh buat? Kita hidup di sebuah tatanan yang menganggap bahwa mengatakan kebenaran adalah sebuah hal yang dianggap membahayakan. Snowden harus melarikan diri dan mengorbankan kehidupannya karena menyampaikan fakta bahwa pemerintah negaranya menyadap penduduknya sendiri. Para pemain PSMS tersebut bahkan terancam untuk diskors hanya karena mengungkapkan kebenaran bahwa mereka belum digaji.

Pemerintah Amerika bisa menganggap bahwa Snowden membahayakan keamanan nasional dan ia harus ditangkap sebagai sanksi. Tapi apa yang membuat bahwa para penguasa sepakbola merasa bahwa para pemain PSMS layak diancam skors karena tindakan mereka? Kepentingan siapa yang dibahayakan jika kenyataan bahwa para pemain belum digaji berbulan-bulan bocor ke masyarakat?

Satu hal yang membuat anda menggaruk kepala, tapi banyak hal yang lebih aneh pernah terjadi dalam sepakbola Indonesia.

Menghakimi whistleblower membuat permasalahan sesungguhnya luput dari perhatian.

Atau memang meluputkan masalah dari perhatian adalah tujuan sesungguhnya?

Komentar (0 Komentar)
Belum Ada Komentar.

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Archive Big Pang Theory