Mengapa Saya Tak Lagi Semangat Menonton Serie A

By Pangeran Siahaan, Sabtu, 22/09/2012 11:57
31Kevin+Prince+Boateng+AC+Milan+v+Atalanta+BC+nuG5jiueV-xl.jpg

Salah satu dongeng masa kecil yang sering saya dengar adalah bagaimana hebatnya trio Belanda, Marco van Basten-Frank Rijkaard-Ruud Gullit di AC Milan. Saya menyebutnya dongeng karena saya sendiri sudah tidak sempat menyaksikan penampilan Van Basten karena dia keburu pensiun dini. Karena hampir tiap pekan diterpa oleh berbagai berita dan cerita tentang betapa hebatnya AC Milan, ada masa di mana saya selalu sebal setiap Minggu malam disuruh tidur cepat karena esok hari harus sekolah. Padahal dulu siaran langsung Serie A hanya Minggu malam, sedang Premier League disiarkan hari Sabtu malam. Maka yang terjadi adalah terpaksa kucing-kucingan dengan orang tua untuk menonton Serie A di televisi saat jarum jam menunjukkan angka jam 9. Itu dulu, sekarang setiap kali remote TV membawa saya ke siaran Serie A, paling-paling hanya menengok sejenak, lalu ganti channel.

Saya tumbuh dalam era di mana menonton Serie A adalah sebuah kemewahan untuk dipamerkan di sekolah karena tidak harus tidur cepat pada sebelumnya. Duet striker yang paling mengesankannya dalam masa kecil saya selain Andy Cole-Dwight Yorke adalah Alessandro Del Piero-Filippo Inzaghi. Saya masih ingat saat Fabio Capello lengser dari AC Milan dan digantikan oleh Oscar Washington Tabarez, saya bertanya dalam hati, “siapa orang ini?” Saya ingat betul skuad Parma saat menjuarai Piala UEFA dengan barisan pertahanan terbaik di Eropa: Fabio Cannavaro-Nestor Sensini-Lilian Thuram-Antonio Bennarivo. Ada masa di mana selain ingin menjadi David Beckham, saya juga ingin menjadi seperti Sergio Conceicao.

Era keemasan Serie A Italia memang berlangsung pada akhir dekade 80-an hingga awal dekade 2000-an. Pada tahun 90-an, Italia seperti El Dorado di mana semua pesepakbola kelas dunia ingin mencoba mengais emas di sana. Diego Maradona mengawalinya saat ia bermain di Napoli pada tahun 80-an, lalu diikuti trio Belanda di Milan dan trio Jerman, Lothar Matthaus-Andreas Brehme- Juergen Klinsmann. Pada dekade 90-an, dari mulai George Weah, Zinedine Zidane, Ronaldo, hingga Andriy Shevchenko, semua hijrah ke Italia.

Sering kali para penggemar bola sekarang tidak memberi kredit yang seharusnya pada Serie A sedang pada masa kejayaan. Italia masih menjadi negara dengan juara Champions League terbanyak kedua setelah Spanyol dengan 12 kali juara dan 14 kali sebagai runner-up. Sebagai contoh dominasi sepakbola Italia di daratan Eropa, dari tahun 1989-1998, hanya sekali tidak ada klub Italia di final yaitu tahun 1991 saat Red Star Belgrade mengalahkan Marseille. Pada rentang waktu itu, Italia merebut 4 gelar Champions Cup lewat AC Milan (3 kali) dan Juventus (1 kali).

Pada dekade 2000-an pun prestasi mereka tak buruk. Klub-klub Italia 3 kali menjuarai Champions League, AC Milan 2 kali dan Internazionale sekali. Meski harus dicatat bahwa mereka tak lagi menjadi kontestan reguler di babak final. Bahkan sering kali tim-tim Italia tidak lolos ke babak semifinal yang berdampak pada turunnya koefisien mereka di UEFA. Akibatnya Italia hanya diwakili 3 klub di Champions League. Bahkan dengan gagalnya 1 klub di babak kualifikasi seperti yang dialami Udinese musim ini, maka hanya ada 2 klub Italia di babak penyisihan Champions League.

Para analis menyatakan 2 faktor yang menjadi kemunduran sepakbola Italia. Yang pertama adalah masalah finansial yang menerpa negara tersebut sehingga mempengaruhi industri sepakbola. Mereka tak lagi punya kekuatan finansial untuk menggoda bakat-bakat terbaik dunia untuk bermain di sana. Tahun 1997, Inter Milan bisa memaksa Ronaldo pindah dari Barcelona ke Italia. Hal seperti itu tak akan terjadi sekarang. Roda telah terbalik, sekarang Serie A melihat bagaimana para pemain topnya setiap musim hengkang untuk mencari peruntungan di tempat lain.

Contoh paling gamblang terlihat awal musim ini saat Milan terpaksa menjual Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva ke Paris St Germain dan tak bisa mendatangkan pengganti yang berkaliber sama. Milan tak punya pilihan selain menjual karena mereka bermasalah secara finansial. Sama seperti saat mereka menjual Kaka yang sebenarnya tak ingin pindah tapi klub membutuhkan dana segar dari hasil penjualannya.

Samuel Eto’o memilih bermain di Rusia bersama klub yang saya malas mengejanya daripada tinggal lebih lama di Inter. Apalagi pemain-pemain hebat dari klub yang lebih kecil seperti Alexis Sanchez (Udinese) yang pindah ke Barcelona, dan Javier Pastore (Palermo) serta Ezequiel Lavezzi (Napoli) yang memilih ke Paris.

Italia tak lagi menjadi tujuan utama. Sekarang yang menjadi destinasi utama para pesepakbola adalah bagaimana mandi uang di Real Madrid atau Barcelona. Jika tak mampu, maka mereka mencoba peruntungan di Inggris. Italia adalah pilihan terakhir jika memang tak ada yang mau menampung mereka. Tapi pada kasus PSG pun terlihat, bahwa Prancis bisa jadi akan jadi tujuan favorit dalam beberapa tahun ke depan.

Faktor kedua di belakang kemerosotan sepakbola Italia adalah soal Calciopoli. Secara moral dan struktural, tatanan sepakbola Italia hancur akibat skandal besar yang mengakibatkan Juventus dipaksa turun divisi itu. Tapi kerusakan yang lebih besar terjadi di luar lapangan saat media seluruh dunia berbondong-bondong mencaci kebobrokan sepakbola Italia yang berakibat negatif pada citra liga tersebut. Tidak hanya para pemain yang bersentimen negatif, tapi juga pasar sepakbola dunia. Bukan rahasia lagi jika dalam hal marketing sepakbola, Italia tidak melakukan apa yang dilakukan Inggris dengan mempromosikan Premier League jor-joran di belahan dunia lainnya yang berpengaruh pada sektor finansial juga.

Bagi saya pribadi, hengkangnya para bintang kelas dunia dari Italia semakin mengurangi alasan saya untuk menonton Serie A. Musim lalu saya masih ingin tahu bagaimana Zlatan Ibrahimovic bermain, musim ini hanya tinggal Andrea Pirlo yang tersisa. Bagi yang bukan penggemar Milan, Inter, Juventus, atau klub-klub Italia lainnya, mereka tak punya dorongan yang sama untuk menonton pertandingan-pertandingan Serie A.

Tentu saja bukan berarti Serie A sama sekali miskin kualitas. Saat Chelsea menjamu Juventus di Champions League beberapa hari lalu, jelas terlihat bagaimana La Vecchia Signora unggul secara teknis dibandingkan dengan The Blues. Di Euro 2012 pun Italia sukses masuk final. Tapi, sebagai perbandingan, saya masih akan menonton pertandingan Tottenham Hotspur vs Everton, misalnya. Udinese vs Bologna? Grazie, but no grazie.

Komentar (43 Komentar)
jodjon
2 tahun yang lalu
mungkin faktor media? atau pemodal(segi bisnis)? sekarang beberapa pemodal membeli klub-klub Inggris maka dengan itu liga Inggris lebih "ramai" dan menarik dibanding dengan liga lainya.
bungwentar
2 tahun yang lalu
Miris sih, liat nasib Serie A sekarang. Apalagi dulu waktu SD, belum lengkap kalau tiap Senin, ngobrol soal match Serie A pas weekend. Atau berpura-pura jadi Batistuta. Sampai dulu saya sebut Minggu itu hari begadang, bangun pagi buat nonton Doraemon dan tidur malam buat nonton Serie A :)) .. Jadi terimakasih Serie untuk menemani masa kecil..
gokill_89
2 tahun yang lalu
Emang sih kalo dari sisi popularitas tim kelas papan tengahnya, Serie A masih susah buat nyaingin EPL..
Tapi dari segi kualitas permainan, tim2 ini masih selevel (IMO). Hal yang sama sebenernya juga terjadi di La Liga, malah untuk liga yg satu ini hanya terfokus ke dua klub penguasa Madrid & Barca. Padahal kualitas tim2 papan tengah Spanyol ini bisa menyaingi tim2 papan atas EPL maupun Serie A. Menurut saya sih, Serie A masih lebih populer di Indonesia ketimbang La Liga, walaupun untuk menyaingi EPL saat ini masih cukup sulit.
Tapi biarpun minim pemain bintang, pertandingan2 Serie A terkadang bisa menyajikan pertandingan2 yg gak kalah atraktif dengan EPL.
muse13
2 tahun yang lalu
sekarang pertandingan seperti everton vs newcastle jauh lebih menarik bagi penonton netral dibandingkan juventus vs lazio sekalipun
okyonline
2 tahun yang lalu
terlalu banyak intrik-intrik diluar sepakbola yang membuat serie a kehilangan "roh"nya
Perkembangan liga-liga lainnya juga sangat baik, tapi karena segala sesuatunya berputar, saya yakin suatu saat serie a akan kembali berada dalam deret liga terbaik eropa kembali

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar