Filosofi Sepakbola Rudi Garcia Dan Faktor Lain Kebangkitan Roma

By Muhammad Rezky Agustyananto, Rabu, 09/10/2013 11:42
38fsbrgdfkr.jpg

Jika rekor 100 persen kemenangan di enam giornata pertama Serie A belum cukup untuk membuat Anda terkejut dengan AS Roma di bawah pelatih Rudi Garcia musim ini, maka kemenangan 0-3 atas Inter Milan di San Siro adalah fakta yang seharusnya bisa membuat Anda melongo.

Seperti yang sudah saya tuliskan di dalam artikel sebelum pertandingan, perjalanan Roma di enam giornata pertama musim ini memang benar-benar di luar ekspektasi banyak orang – jika kita tidak bisa menyebut semua orang. Teori kaum konservatif seperti saya yang menganggap bahwa sebuah tim yang baru dilatih oleh seorang pelatih baru, apalagi yang buta sepakbola Italia seperti Rudi Garcia, dan ditinggal beberapa pemain bintangnya harus menjalani sebuah sesi adaptasi selama beberapa waktu ternyata tidak terbukti pada Roma. Dengan wajah skuat yang setengah baru dan pelatih yang namanya mungkin tidak dikenali oleh sebagian suporter ketika ia ditunjuk di musim panas lalu, Roma melaju dengan kencang sejak kompetisi dimulai.

Jika sebagian besar orang sebelumnya masih menganggap rekor impresif Roma di awal musim ini sebagian dipengaruhi karena lawan-lawannya yang memang terhitung lebih lemah, kecuali Lazio, kemenangan atas Inter dengan tiga gol tanpa balas adalah sebuah pembuktian sempurna: bahwa prestasi awal musim ini bukanlah kebetulan atau keberuntungan semata.

Jangan salah, Inter musim ini di bawah asuhan Walter Mazzari juga sudah berubah dan menjalani periode yang menyenangkan di awal musim. Meski tidak sekencang Roma, start awal musim mereka juga bagus dan mengundang banyak pujian. Bersama Roma, Napoli dan Juventus, Nerazzurri adalah tim dengan start yang paling meyakinkan di Serie A musim ini. Jadi, lawatan ke Milano, bagi sebagian dari mereka yang masih meragukan Giallorossi, adalah sebuah tes yang sebenarnya bagi Il Lupi.

Dan tes itu dijawab dengan sempurna oleh Francesco Totti dkk. Tiga gol disarangkan, dan mereka pun kembali tidak kebobolan. Sejauh ini, Roma telah mencetak 20 gol dan baru kebobolan satu gol, dengan tujuh kemenangan dari tujuh pertandingan catatan terbaik di liga.Hal ini menimbulkan pertanyaan yang singkat namun bisa mengakibatkan sebuah penjelasan yang panjang: kok bisa?

1. Transfer Yang Jitu

Selain Fiorentina, Roma adalah salah satu tim di Serie A yang terhitung sukses di bursa transfer. Ditinggal Franco Baldini ternyata tidak membuat mereka melempem dalam urusan membidik pemain. Roma tetap sanggup memboyong nama-nama oke seperti Mehdi Benatia, Kevin Strootman, dan Adam Ljajic. Tiga nama ini memang tengah bersinar dan menjadi incaran beberapa klub besar, dan Roma tetap sanggup memboyong mereka, walau Baldini yang katanya sakti saat itu sudah berubah menjadi pujaan suporter Tottenham Hotspur.

Keberhasilan Walter Sabatini untuk menuruti permintaan Rudi Garcia, yang nampak sudah tahu apa yang ingin ia lakukan pada Roma juga jadi kunci. Beberapa hari yang lalu, Sabatini mengaku tidak pernah akan berniat memboyong Gervinho jika bukan Garcia yang meminta. Kita, terutama Anda yang melihatnya bermain di Arsenal, mungkin tahu penyebabnya mengapa. Tapi Garcia paham benar dengan mantan muridnya itu di Lille, dan yakin bahwa pemain yang baru-baru ini bahkan dijuluki “Messi dari Afrika” ini bisa bangkit kembali seperti dulu. Dan ini membawa kita ke poin kedua.

2. Kemampuan man-management Rudi Garcia Yang Bagus

Selain tiga nama yang memang bisa dikatakan ‘hot items’ di atas, Roma memboyong nama-nama yang mungkin membuat sebagian dari kita mengerutkan dahi. Selain Gervinho, nama lain yang bisa membuat kita bingung mengapa Roma mau memboyong mereka adalah Maicon dan Morgan De Sanctis.

Pertama, dua nama itu sudah tidak muda lagi. Maicon sudah berusia 32 tahun, dan De Sanctis sudah berusia 36 tahun. Keduanya adalah punggawa lini belakang, lini terlemah Roma musim lalu. Mengingat bahwa karir keduanya sedang menukik turun pada musim lalu, memboyong keduanya jelas tidak terlihat sebagai sebuah langkah yang brilian.

Tetapi Rudi Garcia bisa membangkitkan kedua pemain tersebut (plus Gervinho) dan membuat mereka menjadi pemain-pemain yang penting bagi tim. Melihat bagaimana De Sanctis begitu gemar membuat blunder di sepanjang musim lalu membuat kita mungkin sulit percaya melihat catatannya dari tujuh pertandingan musim ini: enam kali clean sheets dan baru kebobolan satu gol. Maicon sukses tampil mengesankan di posisi bek kanan dan perlahan bangkit kembali sampai setelah karirnya meredup di Manchester City musim lalu. Dan Gervinho, kita tahu, kini menjadi salah satu tumpuan Roma di lini depan. Di pertandingan melawan Inter akhir pekan kemarin, Gervinho adalah motor serangan balik cepat Roma dan kreator dua gol mereka, yang bermain lebih defensif di laga tersebut. Lebih dari 40% serangan Roma di laga itu dilakukan dari sisi kanan, tempat Gervinho beroperasi.

Pendekatan Garcia yang bagus juga yang membuat Daniele De Rossi, orang yang enggan dipanggil Capitan Futuro itu, untuk bertahan meski sempat menyatakan ingin pindah pada musim panas tahun ini. De Rossi, yang karirnya nyaris ditenggelamkan oleh Zdenek Zeman di musim lalu, kini merasa dihargai lagi.

Man-management yang apik seperti ini adalah salah satu kunci Garcia untuk membangkitkan kembali Roma, yang nasibnya tak jelas dalam dua musim belakangan. Ia memberikan kembali kepercayaan diri pada semua pemain dan mengangkat beban-beban dari pundak mereka.

Berkebalikan sekali dengan Zeman memang.

3. Fokus Lini Belakang

Musim lalu, Roma adalah  tim dengan produktivitas yang sangat tinggi, baik dalam hal membobol ataupun kebobolan. Untuk hal pertama memang bagus, tetapi hal yang disebut terakhir tentu bukan hal yang menyenangkan. Unggul tiga gol lalu keluar dari stadion dengan hanya membawa pulang satu poin adalah hal yang biasa dilakukan oleh Giallorossi musim lalu. Filosofi mereka musim lalu memang agak mengerikan memang.

Musim ini, lini depan Roma tetap produktif, namun lini belakang mereka tidak. Catatan 20 gol dan hanya kebobolan satu gol adalah catatan yang diraih Roma dalam tujuh laga sebelum jeda internasional saat ini. Mari bandingkan dengan musim lalu: dalam 38 pertandingan di Serie A, mereka kebobolan 56 gol, catatan terburuk di liga.

Kehilangan Marquinhos, bek muda dengan bakat yang menjanjikan, ke PSG dengan harga mahal ternyata bukan masalah. Selain bisa mengisi kas klub, Roma juga bisa menggantinya dengan Benatia dengan harga hanya sekitar sepertiga dari harga jual Marquinhos. Menguntungkan baik untuk keuangan klub maupun untuk performa tim.

Sejak awal ditunjuk oleh Roma, lini ini memang menjadi perhatian utama Garcia. Ia sejak awal menegaskan bahwa filosofi permainannya adalah permainan ofensif yang berawal dari lini pertahanan yang solid. Keseimbangan.

4. Kembalinya ‘Era Spalletti’

Rosella Sensi, mantan presiden Roma, baru-baru ini mengatakan bahwa ia melihat permainan Roma saat ini mengingatkannya dengan Roma di era Luciano Spalletti. Era yang menyenangkan bagi hampir semua suporter Roma, karena permainan indah yang mereka tampilkan saat itu dan hasil yang lumayan apik: menjadi penantang utama Inter dalam perebutan gelar juara di ajang domestik selama empat tahun beruntun meski akhirnya selalu gagal meraih gelar scudetto.

Memang, ada persamaan dari gaya main tim Garcia saat ini dengan tim Spalletti saat itu. Selain permainan ofensif yang indah, salah satu kunci dari kedua tim yang berbeda era itu adalah posisi Francesco Totti di lini depan Giallorossi. Seperti yang kita tahu, sebelum Barcelona mempopulerkan false nine di era Pep Guardiola, Roma sudah lebih dahulu sukses mempraktekkannya di era Spalletti.

Spalletti saat itu menggunakan 4-2-3-1 dengan Totti sebagai ujung tombak. Tetapi, mengetahui  sifat dan kemampuan Totti yang memang mumpuni menjadi playmaker, Spalletti memerintahkan Totti untuk kerap turun membuka ruang bagi lini kedua dan menjadi playmaker tim. Hasilnya, formasi mereka kerap disebut sebagai 4-6-0. Dan ini terjadi jauh sebelum Guardiola mencuat namanya bersama Barcelona.

Hal yang sama juga terjadi pada tim Roma era Garcia. Totti juga menjadi ujung tombak, dan ia kerap turun membantu lini kedua dan menjadi playmaker timnya. Selain itu, kedua tim yang berbeda era ini juga sama-sama mengandalkan sayap mereka dalam mengkreasikan peluang. Jika Spalletti dulu memiliki Mirko Vucinic di sisi kiri, Garcia kini memiliki pemain favoritnya, Gervinho, di sisi kanan. Fluiditas para pemain depan kedua tim ini juga yang membuat permainan menyerang kedua tim bisa terlihat begitu menyenangkan.

Hal ini membuat penjualan Pablo Osvaldo ke Inggris dengan harga yang lumayan tinggi itu juga terlihat seperti bisnis yang bagus, karena rasanya Osvaldo kurang cocok dengan tipe permainan yang seperti ini.

5. Filosofi Permainan Yang Fleksibel

Jika Roma era Zeman hanya memiliki satu filosofi permainan, yaitu keluar menyerang tanpa mempedulikan lini belakang dan selalu memegang teguh filosofi tersebut tak peduli siapa lawannya, Rudi Garcia memiilih pendekatan yang berbeda. Betul, ia memang juga tetap menginginkan timnya tampil ofensif dan menghibur fans, tetapi ia cukup fleksibel dan melihat lawan yang dihadapi. Pertandingan melawan Inter menjadi satu contoh menarik bagaimana pendekatan seperti ini digunakan olehnya.

Di laga itu, Roma kembali keluar dari ekspektasi banyak orang: alih-alih mendominasi penguasaan bola dan keluar menyerang, Roma justru lebih banyak bertahan, menunggu saat yang tepat, lalu melakukan serangan balik yang cepat dan mematikan, utamanya lewat Gervinho di sisi kanan. Dua dari tiga gol mereka diciptakan lewat skema serangan balik yang cepat. Jika gol pertama berawal dari Andrea Ranocchia yang penyakit blundernya kambuh, hadiah penalti untuk gol kedua berawal dari tusukan cepat Gervinho dari sisi kanan. Sementara gol ketiga yang dicetak Alessandro Florenzi berawal dari tendangan penjuru Inter yang gagal, kontrol bola Totti yang brilian, dan umpan jauh ke Florenzi yang sudah berada di area pertahanan tuan rumah.

Secara statistik, Inter memang unggul segalanya di pertandingan tersebut, namun Roma jauh lebih efektif dan berhasil. Kemenangan itu membuktikan bahwa Roma era sekarang ini bukan hanya bermain untuk menghibur penonton, tetapi juga untuk menang. Garcia pernah mengatakan seperti ini dalam wawancaranya dengan World Soccer di awal musim:

“I think football is a spectacle and people come to watch a spectacle. At the same time, we must not forget that they will be happiest if we are winning games.”


Komentar (0 Komentar)
Belum Ada Komentar.

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Profil Muhammad Rezky Agustyananto

"Bukan pecinta, hanya penikmat sepakbola yang kebetulan lebih suka menulis alih-alih berbicara"

Archive Jurnal Rezky Agustyananto