Apakah Kekalahan Roma Murni Kesalahan Zeman Semata?

By Muhammad Rezky Agustyananto, Rabu, 14/11/2012 11:54
97Francesco+Totti+Parma+FC+v+Roma+Serie+ma2NxarOp7Zx.jpg

Roma asuhan Zeman musim ini seperti tidak pernah belajar dari kesalahan. Giallorossi sebenarnya mampu unggul terlebih dahulu ketika Erik Lamela menyundul bola hasil tendangan penjuru Francesco Totti di menit ke-9 (meski gol tersebut bisa didebat keabsahannya karena Lamela terlihat mendorong Senad Lulic ketika menyundul bola). Tetapi persis seperti ketika mereka kalah dari Parma dan Udinese, Roma dengan mudahnya dibobol dua kali oleh Lazio sebelum babak pertama berakhir.

Stefano Mauri menambah penderitaan Roma ketika babak kedua baru dimulai, dan gol fantastis Miralem Pjanic di akhir laga pun tak mampu menyelamatkan Roma dari kekalahan ketiga di derby secara beruntun. Kekalahan ini adalah yang kelima bagi Roma di musim ini, dan mereka pun masih tertahan di posisi ketujuh. Melihat hasil-hasil yang diraih Roma musim ini, wajar jika kepercayaan fans terhadap Zeman pun kini menurun.

Permasalahan utama Zeman, bagi sebagian besar orang, adalah kekeraskepalaannya untuk menampilkan sepakbola menyerang dan mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan, tanpa menghiraukan berapa banyak gol yang bersarang ke gawang timnya sendiri. Filosofi ini tak pernah diubah Zeman meski faktanya, Roma terus mendapatkan hasil yang kurang menyenangkan di liga.

"Zeman benar-benar seorang pemimpi. Ia selalu memainkan sepakbola yang selalu sama, mengalami kekalahan yang selalu sama, tetapi ia tidak pernah mau menyerah," tulis Massimo Mauro di La Repubblica, seperti dikutip Paolo Bandini di tulisannya di Guardian.

Di tangan Zeman, Roma memang menjelma menjadi salah satu tim paling subur di Serie A. Kini Roma sudah mencetak 28 gol dalam 12 laga, hanya kalah dari Juventus (29 gol), yang akhir pekan kemarin membabat habis Pescara dengan enam gol. Tetapi mari perhatikan pula jumlah kebobolan Roma musim ini: sejauh ini, sudah 23 gol bersarang di gawang Il Lupi, atau nyaris dua gol per pertandingan. Hanya Pescara (posisi 16) dan Chievo (posisi 15) yang mampu menyamai 'pencapaian' Roma dalam hal kebobolan ini.

Tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah semua kekalahan Roma, termasuk di derby kemarin, adalah murni kesalahan Zeman seorang?

Zeman jelas tidak mau disalahkan begitu saja. Pasca laga tersebut, Zeman terlihat menyalahkan kartu merah Daniele De Rossi dan lapangan yang tergenang air karena hujan lebat yang terjadi di Olimpico.

De Rossi, yang akhirnya diposisikan sebagai regista lagi setelah selama ini harus bermain sebagai gelandang kanan karena posisi aslinya diberikan Zeman kepada Michael Bradley, memang dengan konyolnya memukul Stefano Mauri tepat sebelum jeda pertandingan sehingga wasit memberikan kartu merah langsung.

"Tindakan itu (De Rossi), sangat disayangkan. Kami telah berbicara bahwa kami tidak boleh terprovokasi dan membuat wasit memberikan kartu. Tetapi ketika Anda terlalu merasakan atmosfer derby, Anda akan membayarnya," sebut Zeman. Eks pelatih Pescara ini kemudian menyalahkan lapangan yang tergenang air, yang membuat bola tidak bisa bergulir seperti biasa di atas lapangan.

"Kami tidak bisa memainkan bola-bola panjang. Kami memainkan umpan-umpan pendek dan pergerakan yang cepat, jadi kami benar-benar tidak tahu caranya bermain sepakbola seperti itu," ujarnya.

Kedua argumen itu memang masuk akal. Tetapi bukankah ketidakmampuan Roma bermain bola-bola panjang adalah kesalahannya karena keras kepala menyuruh para pemainnya hanya bermain bola-bola pendek saja? Jika tidak mau disalahkan, Zeman seharusnya mencari kambing hitam yang lebih bagus lagi.

Kambing hitam yang, menurut saya, paling bagus untuk disalahkan sebenarnya adalah pertahanan Roma yang begitu mudahnya membuat kesalahan di laga kemarin. Ketiga gol Lazio bisa dibilang merupakan buah dari kesalahan para pemain belakang Roma, termasuk kiper Mauro Goicoechea.

Gol pertama Lazio, yang dicetak oleh Antonio Candreva dari tendangan bebas, sebenarnya bisa dicegah bila saja Goicoechea mampu meninju bola dengan baik dan benar. Kiper pelapis Maarten Stekelenburg ini sebenarnya sudah meninju bola, tetapi badannya yang condong ke arah kanan membuat bola malah berbelok ke dalam gawangnya sendiri. Padahal, tendangan Candreva sebenarnya mengarah ke tengah gawang, dan seharusnya bisa dicegah untuk masuk ke dalam gawang.

Gol kedua Biancoceleste yang dicetak Miroslav Klose juga seharusnya tidak terjadi bila Marquinhos dan Balzaretti menjaga ketat Klose, yang memang berulang kali mengancam pertahanan Roma. Gol ketiga lebih buruk lagi: bola lambung yang mengarah ke pertahanan Roma disundul oleh Ivan Piris tepat ke depan Mauri, yang kemudian melepaskan tendangan dari pinggir kotak penalti yang tidak bisa dihentikan oleh Goicoechea.

Franco Baldini adalah salah satu yang menyadari bahwa kesalahan-kesalahan para pemain Roma berperan besar terhadap kekalahan timnya kemarin. "Kami memang harus membenahi pertahanan kami, secara keseluruhan situasi (gol-gol lawan) adalah akibat kesalahan-kesalahan individu dan tidak bisa digunakan untuk menyalahkan Zeman," kata direktur umum Roma itu seperti dikutip Football Italia.

Zeman, dengan kekeraskepalaannya itu, bagaimanapun juga menurut saya tetap patut disalahkan. Tetapi harus diakui juga: pertahanan Roma memang sangat buruk. Perubahan jelas dibutuhkan oleh Giallorossi, tetapi melihat sifat Zeman yang keras kepala itu, rasanya hal ini sulit untuk diharapkan.

Komentar (0 Komentar)
Belum Ada Komentar.

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Profil Muhammad Rezky Agustyananto

"Bukan pecinta, hanya penikmat sepakbola yang kebetulan lebih suka menulis alih-alih berbicara"

Archive Jurnal Rezky Agustyananto