Selanjutnya Apa, Sepakbola Indonesia?

By Maheeer, Senin, 03/12/2012 11:13
29takenfrombolavivacoid.jpg

Yah, jika dihubungkan dengan kegagalan tim nasional Indonesia masuk ke semi-final Piala AFF 2012 akibat (lagi-lagi) takluk melawan Malaysia, saya pribadi terus terang mengumbar kata ‘untung’ demi menyamarkan rasa kecewa saya. Untung sejak awal saya tidak berekspektasi tinggi pada timnas untuk jadi juara. Untung kita sudah terbiasa menyaksikan kegagalan sepakbola Indonesia.

Untung timnas gagal di penyisihan. Jadi, rasa sakit hati tidak sebesar ketika dihancurkan Malaysia di final kejuaraan yang sama dua tahun lalu.

Penyair Inggris, Ernest Hemingway juga setuju bahwa ekspektasi bisa membunuh kita. Makanya, sejak awal saya tidak berekspektasi muluk-muluk dengan mengharapkan timnas Garuda akan membawa pulang Piala AFF yang belum pernah sekalipun kita menangkan itu. Kualitas tim yang masih minim pengalaman internasional adalah penyebabnya. Makanya, di tulisan saya sebelumnya, saya mengumpamakan timnas Indonesia tahun ini seperti timnya Keanu Reeves di film ‘The Replacements’. Ekspektasi tetap ada, namun ekpektasi hanya sebatas mudah-mudahan tim Garuda bisa menjawab kritik seperti cerita underdog di film tersebut. Ekspektasi sebagai juara Piala AFF adalah masalah lain lagi. Ekspektasi itulah yang menurut Hemingway bisa berbalik membunuh atas nama kekecewaan.

Bukannya ingin melanjutkan melankoli kita, para pecinta sepakbola Indonesia, terhadap prestasi sepakbola yang tidak pernah meningkat, tapi saya sejak dulu berpikir, mungkin memang bagi masyarakat Indonesia, sepakbola Eropa dan sepakbola nasional sengaja diciptakan sebagai dua entitas berbeda yang sama sekali tidak bisa menyatu. Sepakbola Eropa adalah tontonan mimpi yang hanya bisa kita saksikan lewat kotak bernama televisi. Sebagian besar tontonan ‘mimpi’ itu pun datangnya di malam hari, di saat kita seharusnya terlelap. Dengan mengorbankan jam tidur, barulah kita bisa menyaksikan parade skill dan gol indah dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan para dewa khayangan lain.

Belum lagi jika turnamen penuh gengsi tingkat dunia dimulai. Liga Champions Eropa dan Piala Dunia, contohnya. Semakin jauh saja ‘realita’ kita yang berupa sepakbola nasional dari tontonan akbar di televisi itu. ‘Realita’ sepakbola nasional yang ada berupa para petinggi yang berebut kekuasaan, berujung pada dualisme kompetisi yang berarti turunnya nilai kompetitif sepakbola dalam negeri dan dilarangnya sebagian besar pemain langganan timnas untuk membela negeri di turnamen internasional . Maka, jangan salahkan tim yang sekarang ini berlaga di AFF 2012. Para pemain yang sebagian besar tak terkenal itu sudah berusaha sekuat tenaga.

Terlepas dari semua kisruh itu, hadir beberapa berita segar bagi pecinta sepakbola Indonesia. Para ‘dewa’ di khayangan Eropa sana satu per satu menyambangi negara ini setelah menyadari potensi Indonesia dalam bentuk antusiasme sepakbola. Setelah Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen datang melakukan pertandingan ujicoba di tahun 2008 lalu, Manchester United sempat ingin melangsungkan pertandingan persahabatan sebelum tragedi ledakan bom akhirnya membuat mereka membatalkan rencana. Angin segar lalu dilanjutkan dengan Inter Milan dan Valencia di tahun 2012, sebelum double-visit Arsenal dan FC Barcelona yang rencananya akan datang di tahun 2013 mendatang.

Saya yakin, para ‘dewa’ itu akan berbagi pertanyaan dan keheranan yang sama: Bagaimana mungkin negeri yang kaya talenta yang tersebar di berbagai pulau ini bisa terdampar di peringkat 160-sekian sepakbola dunia? Mengapa selama hampir satu abad, mereka masih jauh dari pentas Piala Dunia? Yang paling penting: mengapa sepakbola mereka selama ini seolah-olah non-existent? Mengapa tidak seorangpun figur pemain sepakbola kelas dunia asal Indonesia muncul ke permukaan?

Mereka memang pantas heran, karena kita sendiri pun di dalam negeri toh masih heran. Mengapa sepakbola kita tidak maju-maju, padahal populasi kita dari segi jumlah tidak kalah dari Brazil yang sudah lima kali menjuarai Piala Dunia? Jangan berdalih dari sisi sejarah, karena sebelum merdeka pun, kita sudah ambil bagian di Piala Dunia 1938 atas nama Dutch East Indies (Hindia Belanda). Jangan pula beralasan dari sisi kultur. Kurang sepakbola apa lagi kita jika mengingat fans klub Manchester United atau Real Madrid sudah buka cabang di hampir tiga puluh provinsi Indonesia?

Berharaplah dalam beberapa tahun ke depan, kunjungan para ‘dewa’ sepakbola akan minimal menambah mental bertanding pemain-pemain nasional kita. Semoga pembinaan Arsenal bisa ditiru oleh PSSI dan cara bermain tiki-taka El Barca bisa dipahami oleh timnas. Di lain pihak, semoga para petinggi dan pengurus federasi sepakbola kita bisa belajar banyak hal dari para ‘dewa’ itu, baik berupa sistem pembinaan maupun cara manajemen bisnis sepakbola dan kompetisi yang ‘bener’. Jangan mau hanya dianggap sebagai pasar penjualan kaus oleh para businessman sepakbola dari Eropa. Kita sendiri pun harus bersikap proaktif jika memang mau maju, karena selama ini kita cuma reaktif terhadap kehebohan sepakbola di Eropa sana. Kita terlalu jauh terseret ke ingar-bingar sepakbola Eropa dan seolah lupa bahwa realita sepakbola dalam negeri kita sedikit demi sedikit hancur berkeping-keping.

Toh, jika mengintip agenda ke depan, sepakbola nasional akan selalu sibuk. (Kedua) kompetisi nasional akan segera bergulir kembali. Babak kualifikasi Piala Asia juga akan dimulai. Lalu setelah itu ada SEA Games, dan berbagai agenda lainnya. Piala Dunia? Ah, sebagai bangsa yang berpikir positif, kita tidak pernah hilang harapan bahwa Indonesia akan berlaga di ajang tertinggi sepakbola dunia itu. Namun kapan? Bahkan para dewa sepakbola pun mungkin tidak berani memastikannya.

***

Komentar (0 Komentar)
Belum Ada Komentar.

Silahkan login atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar

Archive Jurnal Botoligans